BERITA
19 September 2016

BARRU - Tumpahan minyak terjadi di Pelabuhan Garongkong, Barru, Sulawesi Selatan. Kemudian, sebanyak 45 orang dari 17 Unit Pengelola Pelabuhan (UPP) se-Indonesia melakukan penanggulangan tumpahan minyak itu dengan menggunakan peralatan penanggulangan tumpahan minyak (PPTM). Dalam waktu kurang dari tiga jam pelabuhan itu sudah dibersihkan dari tumpahan minyak.Itulah simulasi penanggulangan tumpahan minyak yang digelar oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla), bekerja sama dengan Slickbar Indonesia dan Oil Spill Combat Team (OSCT) Indonesia akhir pekan lalu.

Kepala UPP Pelabuhan Garongkong, Mewawati Agustini, mengemukakan seiring dengan peningkatan perhubungan antarpulau melalui moda transportasi laut di Indonesia, setiap pelabuhan di Indonesia menghadapi risiko tumpahan minyak yang makin meningkat.“Tumpahan minyak itu bisa saja terjadi karena kapal tabrakan, kapal menabrak karang atau dermaga, atau sebab lainnya. Sehingga, diperlukan peralatan penanggulangan tumpahan minyak dan sumber daya manusia yang terlatih untuk menanggulanginya,” kata Mewawati dalam keterangan tertulis, Minggu (3/4).

Ia menyebutkan setiap bulan jumlah kapal yang merapat di pelabuhan Garongkong, Barru, tidak kurang dari 35 kapal yang terdiri atas berbagai ukuran dan jenis. Mewawati yakin dalam beberapa tahun ke depan, jumlah kapal yang berlabuh di pelabuhan seluruh Indonesia, akan makin banyak. Artinya, kemungkinan terjadinya risiko tumpahan minyak akan makin besar.

Sementara Direktur Teknik PT Slickbar Indonesia, Doni Satya, mengemukakan simulasi penanggulangan tumpahan minyak yang digelar itu, adalah praktik dari pelatihan teori yang berlangsung selama empat hari sebelumnya di Makassar.

Doni menambahkan rangkaian kegiatan itu merupakan bagian dari paket pembelian 17 set peralatan penanggulangan tumpahan minyak oleh Ditjen Hubla, Kementerian Perhubungan, dari PT. Slickbar Indonesia. Adapun tumpahan minyak yang terjadi dalam simulasi itu masih pada Tier-1, artinya kasus itu masih bisa ditangani oleh institusi pengelola pelabuhan setempat.

“Ini adalah implementasi dari Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 58 Tahun 2013, setiap pelabuhan wajib memiliki peralatan penanggulangan tumpahan minyak. Karena area perairan di sekitar pelabuhan memiliki risiko kemungkinan terjadinya tumpahan minyak,” jelas Doni.

Lumayan Tinggi

Ia menyatakan kasus tumpahan minyak di perairan Indonesia frekuensinya lumayan tinggi, antara empat sampai lima kali dalam setahun. Hal itu dimungkinkan karena banyaknya pelabuhan di Indonesia.

Selama ini, sangat mungkin, jika terjadi tumpahan minyak, terutama di pelabuhan-pelabuhan kecil, hanya ditangani sekadarnya. Atau mungkin hanya dibiarkan begitu saja. Padahal, jika tumpahan minyak itu terbawa arus atau ombak sampai wilayah pantai, akan merusak ekosistem di sekitarnya. ers/WP

Top